
Pasti pernah menyaksikan visualisasi dari judul di atas kan kawan-kawan? Mungkin sebagian dari kalian bisa jadi adalah pemerannya dan bisa jadi kalian adalah saksi dari cerita orang-orang di sekitar kalian. Tapi kok iya ya perpisahan itu menguatkan? Bukankah perpisahan itu membuat sedih dan haru?
Sore ini (6 Juli 2011) aku membayangkan sesuatu yang lain dari sebuah tayangan drama reality show Orang Pinggiran di Trans 7 pukul 17.30 - 18. 00 WIB. Sebuah keluarga yang mencari sumber penghidupan dari aktivitas mencari undur-undur di sepanjang bibir pantai dengan cara menyeret kayu semacam tongkat pel dengan mulut berbahan karet. Dengan sapuan secara bolak-balik sepanjang perkiraanku sendiri yaitu 50 meter (berdasarkan kavling wilayah per keluarga), maka akan nampak gundulan kecil mengkilat yang tidak semua mata telanjang manusia bisa jeli melihatnya. Diambillah undur-undur yang berukuran sebesar kuku kelingking manusia dewasa itu lalu dimasukkan ke dalam keranjang kecil. Perkiraan hasil pengumpulan bisa mencapai 2-3 kg yang bisa dijual ke pemancing ikan sebagai umpan atau diolah sendiri menjadi makanan seperti lauk atau rempeyek undur-undur. Sebuah sumber pencaharian yang monoton terlebih bermukim di sekitar pantai laut yang jauh dari pusat keramaian.
Di sela liputan dokumentasi kehidupan keluarga itu, aku mendengar penjelasan bahwa kedua orang tua ini memiliki 2 orang anak yang telah terlebih dahulu merantau ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik, entah bagi anak itu sendiri, atau entah untuk kehidupan orangtua yang ditinggal di kampung atau kehidupan bersama mereka, entahlah. Di fragmen ini pada menit ke sekian, aku langsung tersadar. Betapa kalau aku berada pada situasi keluarga mereka yang sangat jauh dari sederhana, dan saya sendiri sebagai anak yang akan merantau, merasakan adanya sebuah impian yang harus kugapai demi menggeser level terendah penghidupan kami itu untuk sedikit lebih baik di atasnya. Aku membayangkan sebuah pengharapan yang harus kuraih walau setapak demi setapak, sedikit demi sedikit tak mengapa, asal itu bisa memberi sebuah perubahan yang berarti yang bisa membuat bibir orang tua dan saudara-saudariku tersungging senyum lebar mendatar, sebelum nanti suatu saat tersungging tertawa melebar ke atas.
Kembali kepada judul di atas. Mungkin kalian berada pada situasi dan kondisi yang sama. Keadaan keuangan yang tidak memadai, serba kekurangan dan jauh dari berkecukupan, atau masalah dan tantangan yang menghebat. Sadarlah kawan, bahwa di atas semua itu adalah sebuah kunci yang bisa membawa kita masuk ke dalam tahapan proses kehidupan yang progresif yaitu pengharapanmu sendiri. Berpijaklah pada cita-citamu, itulah map berisi curriculum vitae abadi mu yang tidak perlu kau print atau cetak warna atau hitam putih, yang tidak perlu kau unduh untuk kau kirim secara elektronik ke alamat lowongan kerja yang sedang kosong, melainkan itu adalah database yang tidak akan pernah terinfeksi virus atau terhapus dari memori paling besar kapasitasnya sekalipun. Peganglah kunci pengharapan itu untuk membuat engkau mampu berdiri dan maju menghadapi keadaan apapun kapanpun di manapun, untuk membuat orang yang kau sayangi bahagia, senang, bangga dan merasa terhormat bermartabat secara khusus di mata Tuhan dan keluarga kita sendiri, tanpa perlu penilaian dari orang lain.

Mungkin sebagian dari kita ingin menghadapi masalah dan tantangan dan menyelesaikannya. Mungkin sebagian dari kita ingin merantau mencari sesuatu perubahan positif, bersiaplah. Atau mungkin di antara kita ada yang sudah menjalankan ritual kekeluargaan sebagai bagian dari keberangkatanmu. Atau mungkin di antara kawan-kawan yang sudah merantau jauh namun tidak sempat berpeluk-pisah dengan keluarga, dengan Bapak Ibumu? Anggaplah ritual itu sudah berjalan dengan lancar dan faktor yang semakin menguatkan itu tadi. Itulah momentum perpisahan yang menguatkan, yang secara tidak langsung terwujud dalam kekuatan yang tiada habisnya sebagai keinginan untuk mencapai cita-cita. Ya, cita-citamu. Cita-cita kita. Cita-cita keluarga.
Di atas semua itu, bagi orang yang percaya, tidak ada yang mustahil. Trying is a part of failing in a process. If you are afraid to fail, then you are afraid to try - Mrs Cunningham. Peganglah teguh pengharapanmu, raihlah cita-citamu. Lakukan yang terbaik dan benar di jalan Tuhan. Be blessed. Be joyful. Be happy. And be the champion of your own life.
YNWA - You'll Never Walk Alone

JBUs (Dedicated To My Pudan Marie Pearl)
No comments:
Post a Comment